Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Hadapan Guru NTB, Robert Kardinal Tegaskan Pentingnya Merawat Toleransi

Sosialisasi 4 pilar MPR RI

Mataram – Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Robert Joppy Kardinal, S.A.B., menegaskan bahwa toleransi merupakan salah satu kekuatan terbesar yang menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan Robert Joppy Kardinal saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Berbasis Komunitas yang diselenggarakan oleh MPR RI yang diikuti oleh guru-guru dari berbagai komunitas profesi bertempat di Hotel Lombok Garden Mataram, Kamis (11/6/2026).

Mengawali penyampaiannya, legislator asal Papua itu mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri anugerah keberagaman yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara paling unik di dunia karena memiliki ribuan pulau, ratusan suku bangsa, berbagai bahasa daerah, dan beragam agama yang hidup berdampingan dalam satu negara.

"Keberagaman yang kita miliki bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan besar yang harus terus dijaga bersama. Indonesia tetap berdiri kokoh karena masyarakatnya memiliki semangat toleransi dan persaudaraan yang kuat," ujarnya.

Belajar Toleransi dari Tanah Papua

Dalam paparannya, Robert membagikan pengalaman kehidupan masyarakat di Papua yang menurutnya telah lama mempraktikkan nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Papua terbiasa hidup berdampingan dan saling membantu tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang sosial. Semangat gotong royong tersebut tampak dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan, termasuk saat pembangunan rumah ibadah.

Menurutnya, masyarakat Muslim di Papua tidak segan membantu pembangunan gereja milik umat Kristiani. Sebaliknya, umat Kristiani juga turut bergotong royong membantu pembangunan masjid bagi saudara-saudara Muslim mereka.

"Di Papua, masyarakat sudah terbiasa saling membantu. Ketika ada pembangunan gereja, saudara Muslim ikut membantu. Begitu pula ketika membangun masjid, saudara Kristiani juga ikut bergotong royong. Inilah wujud nyata toleransi yang hidup di tengah masyarakat," ungkapnya.

Ia menilai bahwa nilai-nilai tersebut sebenarnya hidup di hampir seluruh wilayah Indonesia dan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga persatuan bangsa.

Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Robert juga menyoroti pentingnya Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Menurutnya, keberadaan Bahasa Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah dan latar belakang budaya dapat berkomunikasi dengan baik.

Ia mencontohkan kondisi di Papua yang memiliki keragaman bahasa daerah yang sangat tinggi. Bahkan, terdapat ratusan bahasa yang digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat di wilayah tersebut.

"Di Papua terdapat ratusan bahasa daerah. Namun karena ada Bahasa Indonesia, seluruh masyarakat dapat berkomunikasi dan saling memahami. Bahasa Indonesia menjadi perekat yang menyatukan keberagaman bangsa," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan salah satu keputusan penting para pendiri bangsa yang terbukti mampu menjaga persatuan Indonesia hingga saat ini.

Empat Pilar sebagai Fondasi Persatuan

Dalam kesempatan itu, Robert Joppy Kardinal mengingatkan kembali pentingnya Empat Pilar MPR RI sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menjelaskan bahwa Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan landasan yang memperkuat persatuan masyarakat Indonesia.

Menurutnya, keempat pilar tersebut menjadi pedoman bersama dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan sekaligus menjaga keharmonisan di tengah keberagaman.

"Empat Pilar MPR RI mengajarkan kita untuk menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan memperkuat rasa kebangsaan. Karena itu, nilai-nilai tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda," katanya.

Indonesia Berbeda dengan Negara yang Terpecah Konflik

Untuk memberikan gambaran tentang pentingnya persatuan, Robert membandingkan Indonesia dengan beberapa negara yang hingga kini masih mengalami konflik berkepanjangan.

Ia mencontohkan Korea Utara dan Korea Selatan yang memiliki kesamaan budaya, bahasa, dan sejarah, namun terpisah akibat perbedaan ideologi dan sistem politik. Ia juga menyinggung konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina sebagai pelajaran bahwa perpecahan dapat terjadi ketika semangat kebersamaan dan toleransi tidak terpelihara dengan baik.

Menurutnya, Indonesia mampu menghindari konflik serupa karena memiliki fondasi kebangsaan yang kuat melalui Empat Pilar MPR RI serta budaya toleransi yang terus dijaga oleh masyarakat.

"Indonesia memiliki keberagaman yang jauh lebih kompleks dibanding banyak negara lain. Namun kita tetap bersatu karena memiliki dasar negara yang kuat dan semangat toleransi yang diwariskan dari generasi ke generasi," tegasnya.

Guru Berperan Menjaga Nilai Kebangsaan

Di hadapan para anggota IGI NTB, Robert menekankan bahwa guru memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan persatuan kepada peserta didik.

Menurutnya, sekolah merupakan tempat yang sangat strategis untuk membangun karakter generasi muda agar mampu menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara harmonis.

Ia mengapresiasi para guru yang setiap hari berhadapan dengan peserta didik dari berbagai latar belakang karakter dan sosial. Karena itu, guru diharapkan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai kebangsaan.

"Guru adalah penjaga masa depan bangsa. Melalui pendidikan, guru dapat menanamkan nilai toleransi, persatuan, gotong royong, dan cinta tanah air kepada generasi muda," ujarnya.

Menjaga Indonesia dengan Semangat Toleransi

Mengakhiri paparannya, Robert Joppy Kardinal mengajak seluruh peserta untuk terus memelihara toleransi sebagai modal utama dalam menjaga keutuhan bangsa.

Ia menegaskan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama demi mewujudkan Indonesia yang damai, maju, dan sejahtera.

"Toleransi adalah jembatan yang menyatukan perbedaan. Selama kita menjaga sikap saling menghormati dan menghargai, Indonesia akan tetap kuat dan bersatu," pungkasnya.

Pernyataan tersebut disambut antusias oleh para peserta yang hadir. Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini, para guru diharapkan semakin memahami pentingnya menanamkan nilai toleransi, persatuan, dan semangat kebangsaan kepada peserta didik sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. 

Redaksi oleh Ruslan Wahid (Pengurus IGI NTB)

Posting Komentar untuk "Di Hadapan Guru NTB, Robert Kardinal Tegaskan Pentingnya Merawat Toleransi"