Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mohamad Toha: Pengamalan Pancasila Dimulai dari Menghormati Hak Orang Lain dalam Kehidupan Sehari-hari

Drs. Mohamad Toha, S.Sos., M.Si

Mataram – Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Drs. Mohamad Toha, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai kebangsaan tidak cukup hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari melalui penghormatan terhadap hak-hak sesama warga negara.

Pesan tersebut disampaikan Mohamad Toha saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Berbasis Komunitas yang diselenggarakan MPR RI yang diikuti oleh guru-guru dari berbagai komunitas profesi di Hotel Lombok Garden Mataram, Kamis (11/6/2026).

Dalam paparannya, legislator yang telah beberapa periode menjadi anggota DPR RI tersebut mengapresiasi konsistensi MPR RI dalam membangun semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaan di tengah masyarakat. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para guru yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan dan pembentukan karakter bangsa.

"Guru merupakan mata air ilmu pengetahuan yang terus mengalir bagi masyarakat. Karena itu, peran guru sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda," ujarnya.

Tantangan Implementasi Nilai Kebangsaan

Mohamad Toha mengakui bahwa praktik kehidupan berbangsa saat ini menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, tidak sedikit fenomena sosial yang menunjukkan perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, semangat persatuan, maupun prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Karena itu, kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI menjadi penting untuk terus mengingatkan masyarakat tentang nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR RI meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar tersebut menjadi pedoman dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa.

Meneladani Para Pendiri Bangsa

Pada kesempatan tersebut, Mohamad Toha mengajak peserta untuk memahami proses lahirnya Pancasila sebagai dasar negara. Ia menjelaskan bahwa para pendiri bangsa telah menunjukkan keteladanan luar biasa dalam membangun konsensus nasional demi menjaga persatuan Indonesia.

Menurutnya, perubahan rumusan sila pertama Pancasila menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" merupakan bukti kebesaran jiwa para pendiri bangsa yang mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan.

"Para founding fathers telah memberikan teladan tentang bagaimana menjaga persatuan dalam keberagaman. Meskipun berbeda agama, suku, bahasa, dan budaya, mereka tetap mengutamakan Indonesia sebagai rumah bersama," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa semangat persatuan tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Sila Kedua dan Penghormatan Hak Asasi Manusia

Dalam pemaparannya, Mohamad Toha memberikan perhatian khusus pada sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Menurutnya, sila tersebut memiliki keterkaitan erat dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ia menjelaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk hidup, memperoleh perlindungan, berkeluarga, berpikir, menyampaikan pendapat, berorganisasi, memiliki harta benda, serta menjalankan keyakinan dan agamanya masing-masing.

"Jika kita mampu menghormati hak-hak orang lain, sesungguhnya kita telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap saling menghargai antarumat beragama, menjaga toleransi, serta menghindari tindakan yang merugikan hak-hak orang lain.

Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Menariknya, Mohamad Toha tidak hanya menjelaskan konsep-konsep kebangsaan secara teoritis. Ia juga memberikan berbagai contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan sering kali terjadi dalam bentuk perilaku yang dianggap sepele, seperti menggunakan fasilitas umum tanpa memperhatikan hak pengguna lain, mengambil ruang yang seharusnya dapat digunakan bersama, membuang sampah sembarangan, tidak tertib dalam berlalu lintas, hingga mengganggu kenyamanan orang lain di ruang publik.

Melalui berbagai ilustrasi tersebut, ia mengajak peserta untuk memahami bahwa pengamalan Pancasila tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan besar atau seremoni kenegaraan, tetapi juga tercermin dalam etika dan tata krama sehari-hari.

"Hal-hal kecil yang sering kita abaikan sesungguhnya menjadi cerminan apakah kita sudah menghormati hak orang lain atau belum. Dari situlah nilai-nilai Pancasila hidup dalam kehidupan masyarakat," tegasnya.

Peran Guru Menanamkan Karakter Bangsa

Di hadapan para anggota IGI NTB, Mohamad Toha menekankan pentingnya peran guru dalam membentuk karakter peserta didik. Ia berharap para pendidik dapat menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

Menurutnya, pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan akademik agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, sikap toleran, serta rasa cinta tanah air.

"Guru memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan tata krama, etika, dan nilai kebangsaan kepada peserta didik. Karena karakter bangsa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan sejak dini," ujarnya.

Ia berharap melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, para guru dapat menjadi agen penguatan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan masing-masing sehingga semangat persatuan, toleransi, dan gotong royong terus terjaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengakhiri paparannya, Mohamad Toha mengajak seluruh peserta untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari hal-hal sederhana yang mencerminkan penghormatan terhadap sesama manusia.

"Jika kita mampu menghargai hak orang lain, menjaga etika, dan saling menghormati, maka sesungguhnya kita sedang menjaga keutuhan bangsa dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan nyata," pungkasnya. 

Redaksi oleh Ruslan Wahid (Pengurus IGI NTB)

Posting Komentar untuk "Mohamad Toha: Pengamalan Pancasila Dimulai dari Menghormati Hak Orang Lain dalam Kehidupan Sehari-hari"