Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Putra Nababan: Guru Memegang Peran Kunci Menanamkan Nilai Empat Pilar di Era Digital

Putra Nababan

Mataram – Anggota Badan Sosialisasi MPR RI, Putra Nababan, mengajak para guru untuk menjadi garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial yang semakin kuat memengaruhi kehidupan generasi muda.

Pesan tersebut disampaikan Putra Nababan saat menjadi narasumber pada kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diikuti ratusan guru dari berbagai organisasi profesi guru di Nusa Tenggara Barat, termasuk Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, di Hotel Lombok Garden Mataram, Kamis (11/6/2026).

Putra Nababan yang dikenal sebagai mantan jurnalis dan presenter televisi nasional sebelum terjun ke dunia politik itu menegaskan bahwa tantangan kebangsaan saat ini jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya. Jika dahulu masyarakat memperoleh informasi dari sumber yang terbatas, kini generasi muda hidup di tengah banjir informasi yang datang melalui berbagai platform digital.

"Anak-anak kita hari ini hidup di tengah arus media sosial yang luar biasa. Mereka mengakses informasi dari berbagai penjuru dunia hanya melalui telepon genggam. Karena itu, nilai-nilai kebangsaan harus terus ditanamkan agar mereka memiliki pijakan yang kuat dalam menyaring informasi," ujarnya.

Pancasila Lahir dari Nilai-Nilai Bangsa Indonesia

Dalam paparannya, Putra Nababan mengingatkan bahwa Pancasila bukanlah konsep yang diambil dari bangsa lain, melainkan lahir dari nilai-nilai yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia sejak lama.

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat ditemukan dalam adat istiadat, budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai putra berdarah Batak, ia mencontohkan bagaimana filosofi kehidupan masyarakat Batak mengajarkan penghormatan kepada orang tua, tata hubungan sosial, musyawarah, dan semangat kebersamaan yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

"Pancasila bukan sesuatu yang datang dari luar. Nilai-nilainya sudah hidup dalam budaya, adat, dan tradisi bangsa Indonesia sejak dahulu. Para pendiri bangsa menemukan dan merumuskannya menjadi dasar negara," jelasnya.

Guru Adalah Fondasi Kemajuan Bangsa

Di hadapan para peserta, Putra Nababan menyampaikan penghormatan yang tinggi kepada profesi guru. Menurutnya, keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas guru yang mendidik generasi penerus.

Ia mengutip kisah Jepang pasca tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu, yang pertama kali dicari oleh pemimpin Jepang bukanlah jumlah bangunan yang tersisa, melainkan keberadaan para guru yang dapat kembali membangun masa depan bangsa.

"Ketika sebuah bangsa mengalami kehancuran, yang dicari adalah guru. Karena guru adalah kunci untuk membangun kembali peradaban," katanya.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi dedikasi para guru yang selama ini terus mengabdikan diri dalam mendidik anak-anak bangsa meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi kesejahteraan maupun perubahan zaman yang begitu cepat.

Media Sosial Menjadi Tantangan Baru Kebangsaan

Putra Nababan menilai bahwa perkembangan teknologi digital membawa manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi penguatan karakter dan wawasan kebangsaan.

Menurutnya, sebagian besar konten yang beredar di media sosial tidak secara langsung mengajarkan nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, maupun semangat persatuan Indonesia.

Akibatnya, generasi muda berpotensi lebih mengenal budaya global dibandingkan memahami identitas dan nilai kebangsaan yang dimiliki bangsanya sendiri.

"Kita hidup di era ketika media sosial menjadi ruang belajar baru bagi anak-anak. Jika tidak dibekali nilai-nilai kebangsaan yang kuat, mereka akan mudah terbawa oleh arus informasi yang belum tentu sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia," ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak para guru untuk terus memperkuat literasi, membiasakan budaya membaca, dan mengenalkan simbol-simbol kebangsaan kepada peserta didik melalui berbagai metode pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Persatuan Indonesia Harus Dijaga Bersama

Dalam pemaparannya, Putra Nababan juga menyoroti pentingnya menjaga semangat persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang dibangun atas kesepakatan bersama berbagai suku, agama, budaya, dan bahasa untuk hidup dalam satu bangsa yang sama.

Ia mengingatkan bahwa para pendiri bangsa telah memberikan teladan luar biasa melalui Sumpah Pemuda 1928. Meskipun berasal dari berbagai latar belakang daerah dan etnis, mereka memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan demi menjaga kebersamaan bangsa.

"Para pemuda saat itu memilih bersatu. Mereka tidak mengutamakan identitas kesukuan masing-masing, tetapi memilih membangun Indonesia sebagai rumah bersama," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semangat tersebut harus terus diwariskan kepada generasi muda agar keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Pendidikan Dimulai dari Rumah dan Sekolah

Putra Nababan menegaskan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan sekolah.

Menurutnya, sikap saling menghargai, keadilan, kebersamaan, dan musyawarah harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi karakter yang melekat pada setiap individu.

Ia menilai bahwa pendidikan karakter tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orang tua dan lingkungan keluarga juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam membentuk generasi yang berakhlak dan cinta tanah air.

"Nilai-nilai Pancasila harus hidup di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat. Ketika itu dilakukan secara bersama-sama, maka karakter bangsa akan semakin kuat," katanya.

Guru Penjaga Masa Depan Indonesia

Mengakhiri pemaparannya, Putra Nababan kembali menyampaikan apresiasi kepada para guru yang hadir. Ia meyakini bahwa guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga masa depan Indonesia melalui pendidikan.

Menurutnya, keberhasilan Indonesia mewujudkan generasi yang cerdas, berkarakter, toleran, dan memiliki semangat kebangsaan sangat bergantung pada peran guru dalam membimbing peserta didik.

"Saya menitipkan Empat Pilar MPR RI kepada para guru. Karena melalui tangan para guru, nilai-nilai kebangsaan akan terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa," pungkasnya.

Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Para guru menilai bahwa tantangan era digital memang membutuhkan penguatan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan agar generasi muda tetap memiliki identitas sebagai bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. 

Redaksi oleh Ruslan Wahid (Pengurus IGI NTB)

Posting Komentar untuk "Putra Nababan: Guru Memegang Peran Kunci Menanamkan Nilai Empat Pilar di Era Digital"