Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Prof. Zainal Asikin Tekankan Pendidikan Karakter
Mataram – Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram), Prof. Dr. H. Zainal Asikin, S.H., S.U., turut hadir dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan di Hotel Lombok Garden Mataram, Kamis (11/6/2026), dan diikuti ratusan guru dari berbagai organisasi profesi pendidikan, termasuk Ikatan Guru Indonesia (IGI) Nusa Tenggara Barat.
Dalam kesempatan tersebut ia mengajak para guru untuk memahami Pancasila tidak hanya sebagai teks yang dihafal, tetapi sebagai nilai filosofis yang harus dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut dalam paparannya, Prof. Asikin menekankan bahwa salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini bukan terletak pada kurangnya pengetahuan tentang Pancasila, melainkan pada menurunnya pemahaman terhadap nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, Pancasila memiliki kedalaman makna yang luar biasa, sama seperti nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur'an. Namun, masyarakat sering kali berhenti pada pemahaman tekstual tanpa berupaya menggali pesan moral dan filosofi yang terkandung di baliknya.
"Kita sering membaca teks, tetapi lupa memahami nilai dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Padahal, baik Al-Qur'an maupun Pancasila mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang sangat mendalam untuk membangun peradaban bangsa," ujarnya.
Ketuhanan sebagai Fondasi Seluruh Sila
Prof. Asikin menjelaskan bahwa sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan fondasi utama yang menjiwai seluruh sila lainnya dalam Pancasila.
Ia mengibaratkan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai sumber cahaya yang menerangi hati dan perilaku manusia. Menurutnya, nilai ketuhanan tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual semata, tetapi harus tercermin dalam sikap, moralitas, dan tindakan sehari-hari.
"Ketuhanan bukan hanya urusan ibadah, tetapi bagaimana nilai-nilai ketuhanan itu membentuk karakter manusia yang jujur, beretika, bertanggung jawab, dan menghormati sesama," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh sila dalam Pancasila pada hakikatnya berakar dari sila pertama. Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial hanya dapat terwujud apabila masyarakat memiliki kesadaran spiritual dan moral yang kuat.
Krisis Etika Menjadi Tantangan Bangsa
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Asikin juga menyoroti menurunnya budaya etika dan moralitas di tengah masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia menghadapi tantangan serius berupa melemahnya penghormatan terhadap nilai-nilai kesopanan, tata krama, dan karakter yang dahulu menjadi ciri khas pendidikan nasional.
Ia menilai bahwa pendidikan modern cenderung lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan karakter.
"Kita sering membebani anak dengan berbagai mata pelajaran, tetapi kurang memberi ruang yang cukup untuk pendidikan moral, etika, dan budi pekerti. Padahal karakter adalah fondasi utama dalam membangun bangsa," katanya.
Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa diimbangi moralitas dapat melahirkan berbagai persoalan sosial, termasuk kekerasan, intoleransi, hingga penyimpangan perilaku yang terjadi di berbagai lingkungan masyarakat.
Guru sebagai Penjaga Karakter Bangsa
Di hadapan ratusan guru yang hadir, Prof. Asikin menegaskan bahwa guru memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan karakter.
Menurutnya, guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam membangun etika, disiplin, dan tanggung jawab peserta didik.
Ia mengajak para guru untuk berani mendidik dan membimbing siswa agar memiliki karakter yang kuat, sekaligus menanamkan nilai-nilai moral sejak dini.
"Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang pintar, tetapi juga oleh manusia yang memiliki akhlak, etika, dan tanggung jawab terhadap sesama," ujarnya.
Persatuan Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Selain membahas moralitas, Prof. Asikin juga menekankan pentingnya menjaga persatuan sebagai implementasi sila ketiga Pancasila.
Menurutnya, persatuan bangsa tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, tetangga, sekolah, dan masyarakat sekitar.
Ia mengingatkan bahwa rasa saling percaya, saling menghargai, dan saling menghormati merupakan modal utama dalam membangun persatuan nasional.
"Kalau hubungan dalam keluarga baik, hubungan bertetangga baik, hubungan di sekolah baik, maka persatuan bangsa akan semakin kuat. Persatuan Indonesia sesungguhnya dibangun dari kehidupan sehari-hari," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa budaya gotong royong, saling membantu, dan menjunjung kebersamaan merupakan warisan luhur bangsa yang harus terus dijaga di tengah perkembangan zaman.
Menghargai Waktu sebagai Bagian dari Karakter
Dalam paparannya, Prof. Asikin juga menyoroti pentingnya budaya disiplin dan menghargai waktu sebagai bagian dari karakter bangsa yang maju.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh sikap disiplin masyarakat dalam memanfaatkan waktu secara produktif.
Ia mengajak para guru untuk menjadi contoh dalam membangun budaya disiplin di lingkungan pendidikan.
"Menghargai waktu adalah bagian dari karakter yang harus dibangun sejak dini. Bangsa yang disiplin akan lebih mudah berkembang dan mencapai kemajuan," tegasnya.
Pancasila sebagai Panduan Kehidupan
Menutup pemaparannya, Prof. Zainal Asikin mengajak seluruh peserta untuk kembali menghayati nilai-nilai filosofis Pancasila dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menurutnya, Pancasila bukan sekadar dokumen kenegaraan atau materi pelajaran di sekolah, melainkan panduan moral yang mampu menjadi solusi berbagai persoalan bangsa apabila benar-benar diamalkan.
"Jika nilai-nilai Pancasila kita hidupkan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat, maka kita akan memiliki bangsa yang kuat, beradab, dan bermartabat," pungkasnya.

Posting Komentar untuk "Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Prof. Zainal Asikin Tekankan Pendidikan Karakter"