Muswil III IGI NTB Hadirkan Seminar Pendidikan, Dorong Guru Tumbuh dan Mencetak SDM Berdaya
MATARAM — Musyawarah Wilayah (Muswil) III Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya menjadi momentum konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang refleksi dan penguatan kapasitas guru melalui seminar pendidikan. Dengan dihadiri 120 peserta kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, tersebut menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, yakni Dr. Khusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd., academic practitioner researcher Universitas Mataram (Unram), serta narasumber dari BAZNAS Provinsi NTB.
Seminar mengangkat dua tema utama yang memiliki keterkaitan erat dengan masa depan pendidikan. Dr. Khusnul Khotimah membawakan tema “WHO SHAPES THE TEACHER WE BECOME? Kita Tidak Sedang Bertumbuh Sendirian”, sedangkan sesi berikutnya membahas “Gerakan Filantropi untuk SDM Berdaya”.
Kedua materi tersebut membawa peserta pada satu pemahaman bahwa profesi guru tidak terbentuk dalam ruang kosong. Seorang guru tumbuh melalui interaksi dengan keluarga, guru terdahulu, peserta didik, lingkungan sekolah, komunitas, kebijakan, perkembangan teknologi, serta berbagai pengalaman kehidupan. Pada saat yang sama, guru juga memiliki peran penting dalam membentuk manusia dan menyiapkan sumber daya manusia masa depan.
Khusnul Khotimah Ajak Guru Merefleksikan Perjalanan Profesional
Mengawali pemaparannya, Dr. Khusnul Khotimah mengajak peserta melakukan aktivitas sederhana untuk membangun konsentrasi dan suasana belajar yang lebih hidup. Peserta diajak berdiri dan mengikuti sejumlah gerakan sebagai respons terhadap pertanyaan yang disampaikan.
Suasana seminar pun berlangsung interaktif. Para guru diajak mengingat berbagai pengalaman yang pernah mereka alami dalam menjalankan profesinya, mulai dari menghadapi pembelajaran yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, merasakan kelelahan setelah mengajar, hingga mengalami momen ketika seorang peserta didik memberikan apresiasi sederhana yang mampu menghapus rasa lelah.
Dr. Khusnul juga mengajak peserta mengakui bahwa menjadi guru bukanlah perjalanan yang selalu mudah.
Ia mengajukan pertanyaan reflektif kepada para peserta: apakah pernah ada saat ketika seorang guru bertanya kepada dirinya sendiri, apakah masih sanggup menjalankan profesi tersebut?
Pertanyaan tersebut mendapatkan respons kuat dari peserta. Menurut Khusnul, pengalaman semacam itu merupakan bagian dari perjalanan profesional seorang pendidik.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran.
“Seorang guru tidak hanya mengajarkan pelajaran. Seorang guru melakukan pekerjaan yang lebih manusiawi, yaitu membentuk kehidupan, menumbuhkan harapan, dan diam-diam ikut menentukan masa depan.”
Menurutnya, peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial. Teknologi dapat membantu berbagai pekerjaan pembelajaran, tetapi relasi manusiawi, keteladanan, kepedulian, dan kemampuan membangun harapan tetap menjadi bagian penting dari profesi guru.
Guru Tidak Bertumbuh Sendirian
Tema utama yang disampaikan Khusnul kemudian membawa peserta untuk melihat kembali perjalanan masing-masing sebagai guru.
Ia mengajak peserta kembali mengingat masa kanak-kanak, masa sekolah, perguruan tinggi, hingga pengalaman pertama memasuki ruang kelas sebagai pendidik.
Pertanyaan besarnya adalah: siapa sebenarnya yang membentuk seorang guru menjadi seperti sekarang?
Menurut Khusnul, perjalanan menjadi guru bukanlah perjalanan individual. Ada keluarga yang memberikan dukungan, guru yang menjadi teladan, mentor yang membuka jalan, peserta didik yang memberikan pelajaran kehidupan, komunitas yang memperkuat, hingga berbagai tantangan yang secara tidak langsung membentuk ketangguhan seorang pendidik.
“Jadi kita sebenarnya tidak benar-benar terbentuk sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengajak peserta mengingat satu sosok atau satu peristiwa yang pernah mengubah perjalanan hidup mereka. Sosok tersebut tidak selalu harus seorang pejabat atau tokoh terkenal. Bisa jadi orang tua, kakek, nenek, guru, tokoh masyarakat, teman, peserta didik, bahkan seseorang yang ditemui dalam sebuah percakapan singkat.
Menurut Khusnul, sebuah peristiwa yang berlangsung hanya beberapa menit dapat meninggalkan pengaruh yang panjang terhadap kehidupan seseorang.
Lingkungan Membentuk Keputusan Profesional Guru
Untuk memperkuat gagasannya, Khusnul menjelaskan perspektif bioekologi yang melihat perkembangan manusia sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungan dan perjalanan waktu.
Dalam konteks guru, faktor yang memengaruhi perkembangan profesional tidak hanya berasal dari diri sendiri. Ada lingkungan terdekat atau microsystem, seperti keluarga, teman, guru, mentor, kepala sekolah, dan peserta didik.
Kemudian terdapat komunitas dan lingkungan yang lebih luas. Sekolah yang mendukung perkembangan guru, misalnya, dapat menjadi ruang tumbuh bagi pendidik. Demikian pula komunitas profesi seperti IGI dapat menjadi ekosistem yang membuka kesempatan bagi guru untuk belajar, berbagi, berkolaborasi, dan mengembangkan diri.
Di luar itu, terdapat faktor yang tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi turut memengaruhi perjalanan guru, seperti perkembangan teknologi, kebijakan pendidikan, perubahan kurikulum, serta nilai-nilai budaya masyarakat.
Khusnul menegaskan bahwa seluruh faktor tersebut dapat memengaruhi keputusan profesional seorang guru.
“Guru yang baik kadang lahir dari komunitas yang mendukung perkembangan guru,” katanya.
Tantangan Tidak Selalu Menghentikan Pertumbuhan
Salah satu bagian penting dalam pemaparan Khusnul adalah bagaimana seorang guru menghadapi pengalaman sulit.
Ia memaparkan hasil penelitian yang dilakukannya selama tiga tahun terhadap sejumlah guru dan dosen dengan latar belakang perjalanan profesi yang berbeda. Ada yang sejak awal tidak bercita-cita menjadi guru, ada yang berasal dari keluarga pendidik, dan ada pula yang pada awalnya memilih profesi lain.
Namun, perbedaan latar belakang tersebut tidak serta-merta menentukan kualitas perjalanan profesional mereka.
Menurut Khusnul, pengalaman sulit tidak selalu menghasilkan dampak negatif. Kata-kata yang mengecilkan hati, lingkungan yang membatasi, konflik, atau sistem yang tidak selalu mendukung memang dapat menjadi tantangan. Akan tetapi, tantangan tersebut tidak otomatis menghentikan perkembangan seseorang.
Yang membedakan adalah bagaimana seseorang memaknai pengalaman tersebut.
Ia memperkenalkan tiga hal penting dalam proses tersebut, yakni menerima adanya hambatan, memaknai pengalaman, serta merekonstruksi makna dan kemudian bertindak.
“Tidak semua orang yang mengalami kisah buruk dan baik mampu memaknai kejadian itu. Yang harus kita tanyakan adalah what does this thing teach us?” tuturnya.
Dengan demikian, guru didorong untuk tidak berhenti pada pengalaman, tetapi mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan menggunakannya untuk menentukan langkah berikutnya.
Filantropi Tidak Berhenti pada Bantuan
Sementara itu, sesi kedua menghadirkan Dr. TGH. Lalu Abdul Muhy, M.A., yang akrab disapa Mamiq Muhyi, mewakili Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.A., Ketua BAZNAS Provinsi NTB. Dalam kesempatan tersebut, Mamiq Muhyi menyampaikan materi bertema “Gerakan Filantropi untuk SDM Berdaya”.
Dalam materi presentasi yang disampaikan, konsep filantropi dikembangkan dari pendekatan karitatif menuju pemberdayaan. Jika pendekatan karitatif berorientasi pada menjawab kebutuhan darurat, membantu seseorang bertahan hidup, dan menyelesaikan persoalan hari ini, maka pemberdayaan diarahkan untuk membangun kemandirian, membantu seseorang bertumbuh, dan menyelesaikan persoalan masa depan.
Materi tersebut menempatkan filantropi bukan semata-mata sebagai aktivitas memberikan bantuan, tetapi sebagai proses menciptakan kemampuan agar penerima manfaat memiliki keterampilan, kesempatan, dan ekosistem yang mendukung kemandirian.
Salah satu gagasan yang ditampilkan adalah “Dari Zakat Menjadi Keterampilan”. Dalam materi tersebut ditunjukkan kolaborasi BAZNAS NTB dengan SMK Unggulan, termasuk SMKN 3 dan SMKN 4 Mataram, untuk membekali mustahik dengan keterampilan yang dapat menopang penghasilan.
Keterampilan yang ditampilkan antara lain bidang roti, konstruksi, teknisi AC, pengelasan, dan menjahit. Pesan yang hendak ditekankan adalah bahwa dana zakat dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga menjadi instrumen peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
Pelatihan Harus Terhubung dengan Ekosistem Ekonomi
Dalam materi selanjutnya, ditunjukkan sebuah alur yang menempatkan pelatihan sebagai pintu masuk menuju kemandirian. Setelah asesmen mustahik dan pelatihan vokasi, proses dilanjutkan dengan sertifikasi, dukungan modal dan alat kerja, pendampingan, hingga akses pasar dan ekosistem desa.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui konsep Laboratorium Filantropi Desa Berdaya. Dalam diagram materi, desa berdaya dibangun melalui keterhubungan antara BAZNAS sebagai sumber dana ZIS, SMK sebagai instruktur atau penyedia pendidikan vokasi, pemerintah sebagai penyedia akses dan program, serta dunia usaha sebagai bagian dari pasar dan lapangan pekerjaan.
Dengan pola tersebut, pelatihan tidak berdiri sendiri. Keterampilan perlu disambungkan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat sehingga peserta pelatihan memiliki peluang untuk menggunakan keterampilannya secara produktif.
Dari Mustahik Menjadi Muzakki
Ukuran keberhasilan program pemberdayaan dalam materi tersebut juga dibuat lebih panjang daripada sekadar terselenggaranya pelatihan.
Alurnya adalah mustahik → terampil → berpenghasilan → mandiri → menjadi muzakki. Dengan demikian, keberhasilan filantropi diukur dari perubahan kondisi penerima manfaat hingga mampu menjadi pihak yang memberikan manfaat kepada orang lain.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan dunia pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pihak yang dapat menanamkan keterampilan, karakter, kemandirian, dan orientasi kebermanfaatan kepada peserta didik.
Pada bagian akhir materi bahkan ditegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi “filantropis ilmu” dan pencetak SDM masa depan. Seorang guru yang mengajarkan kewirausahaan, misalnya, berpotensi melahirkan peserta didik yang kelak menjadi pelaku usaha dan membuka kesempatan ekonomi bagi orang lain.
Memperkuat Peran Guru sebagai Pembentuk Masa Depan
Dua materi dalam seminar tersebut pada akhirnya bertemu pada satu titik: manusia adalah pusat dari pendidikan dan pemberdayaan.
Khusnul mengajak guru melihat bahwa dirinya dibentuk oleh banyak orang dan pengalaman, sekaligus memiliki kemampuan untuk membentuk kehidupan peserta didik. Sementara materi tentang filantropi mengajak melihat bahwa kepedulian sosial dapat diarahkan menuju pemberdayaan yang menghasilkan keterampilan, penghasilan, dan kemandirian.
Bagi peserta Muswil III IGI Wilayah NTB, seminar tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kembali makna profesi guru. Guru bukan hanya seseorang yang hadir di depan kelas untuk menyampaikan materi, melainkan bagian dari ekosistem yang ikut menentukan masa depan peserta didik dan masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menguatkan semangat IGI untuk terus mendorong guru menjadi pembelajar sepanjang hayat, membangun komunitas profesional, serta menghadirkan pendidikan yang memberikan dampak nyata.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi guru memang tidak selalu mudah dan tidak pernah benar-benar ditempuh sendirian. Ada orang-orang yang pernah memberi kepercayaan, ada pengalaman yang menguatkan, ada tantangan yang mengajarkan ketangguhan, dan ada komunitas yang memberikan ruang untuk terus bertumbuh.
Dari sana, guru diharapkan tidak hanya menjadi pendidik yang semakin kompeten, tetapi juga menjadi manusia yang mampu menumbuhkan harapan, membuka kesempatan, dan mencetak sumber daya manusia yang berdaya bagi masa depan NTB dan Indonesia. (Lan)


Posting Komentar untuk "Muswil III IGI NTB Hadirkan Seminar Pendidikan, Dorong Guru Tumbuh dan Mencetak SDM Berdaya"