Melalui PMO IGI NTB, H. Bakhtiar Ardiansyah Ajak Guru Perkuat Wawasan Kebangsaan Hadapi Tantangan Era Digital
H. Bakhtiar Ardiansyah: Guru Adalah Garda Terdepan Penanaman Wawasan Kebangsaan
MATARAM — Guru memiliki peran strategis dalam menanamkan wawasan kebangsaan, membangun karakter peserta didik, serta menjaga persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Peran tersebut tidak hanya dijalankan melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, tetapi juga dapat diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran dan budaya sekolah.
Pesan itu disampaikan H. Bakhtiar Ardiansyah, S.Pd., M.Pd., yang bertugas di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Nusa Tenggara Barat (NTB) dan merupakan Dewan Kehormatan Wilayah Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, saat memaparkan materi Wawasan Kebangsaan dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi (PMO) Tingkat Dasar IGI Wilayah NTB bersama IGI Daerah Kota Mataram, 24–25 Oktober 2026, di Hotel Idoop Mataram.
Dalam pemaparannya, Bakhtiar mengajak peserta memahami wawasan kebangsaan bukan sekadar pengetahuan tentang negara, melainkan cara pandang yang harus tercermin dalam pikiran, sikap, dan tindakan sehari-hari. Menurutnya, guru sebagai pendidik memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap hidup di lingkungan sekolah dan menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Ia menekankan bahwa rasa bangga sebagai warga negara Indonesia harus diwujudkan melalui perilaku nyata, antara lain menaati aturan, menjalankan tugas secara disiplin, menghargai keberagaman, serta menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa.
Wawasan Kebangsaan sebagai Landasan Menjaga Persatuan
Bakhtiar menjelaskan bahwa wawasan kebangsaan merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta nilai-nilai luhur bangsa.
Dalam materi yang dipaparkan, ia menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar ideologi negara, UUD 1945 sebagai dasar konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang menegaskan pentingnya persatuan dalam keberagaman.
Landasan tersebut, menurutnya, perlu dipahami dan diamalkan oleh seluruh warga negara, termasuk para guru. Wawasan kebangsaan bukan hanya materi yang dihafalkan, tetapi juga pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan, baik di lingkungan kerja, sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Nilai-nilai yang perlu terus diperkuat meliputi cinta tanah air, toleransi, persatuan dan kesatuan, disiplin, tanggung jawab, serta gotong royong. Apabila nilai-nilai tersebut diterapkan secara konsisten, sekolah dapat menjadi ruang yang aman bagi peserta didik untuk belajar menghargai perbedaan dan bekerja sama.
Ia juga mengajak peserta untuk menunjukkan kebanggaan terhadap Indonesia melalui tindakan sederhana, seperti menaati aturan, bekerja dengan sungguh-sungguh, menghargai budaya daerah, dan ikut menjaga warisan kebudayaan bangsa.
Bangga terhadap Budaya Daerah dan Identitas Indonesia
Dalam pemaparannya, Bakhtiar mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap Indonesia perlu dimulai dari penghargaan terhadap budaya sendiri. Ia menyinggung wayang dan batik sebagai contoh warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat.
Menurutnya, kebudayaan bukan sekadar simbol atau pakaian yang dikenakan pada acara tertentu. Kebudayaan juga menjadi bagian dari identitas yang menunjukkan kekayaan dan keberagaman Indonesia. Karena itu, masyarakat perlu mengenal, menghargai, dan menjaga kebudayaan daerah masing-masing tanpa merendahkan budaya daerah lain.
Ia memberikan contoh melalui penggunaan pakaian adat sesuai daerah tempat kegiatan berlangsung. Ketika menghadiri kegiatan di Lombok, misalnya, pakaian adat Sasak dapat menjadi pilihan untuk menunjukkan penghargaan terhadap budaya setempat. Sementara ketika berada di Sumbawa, penggunaan pakaian adat Sumbawa dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi daerah tersebut.
Bakhtiar juga mengajak peserta menghargai bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Sikap bangga terhadap identitas lokal, menurutnya, tidak bertentangan dengan semangat kebangsaan. Sebaliknya, penghargaan terhadap keragaman budaya dapat memperkuat rasa memiliki terhadap Indonesia sebagai satu bangsa.
Kebanggaan tersebut harus disertai perilaku yang mencerminkan tanggung jawab sebagai warga negara. Ia menyinggung pengalaman dan prestasi profesionalnya sebagai pengingat bahwa kedisiplinan serta kinerja yang baik merupakan bagian dari kontribusi nyata bagi bangsa.
Menghadapi Pengaruh Budaya Asing, Hoaks, dan Disinformasi
Bakhtiar turut menyoroti tantangan wawasan kebangsaan di era globalisasi dan perkembangan teknologi digital. Beberapa tantangan yang disampaikan dalam materinya meliputi pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai bangsa, penyebaran hoaks dan disinformasi, meningkatnya intoleransi, serta dampak positif dan negatif kemajuan teknologi.
Menurutnya, masyarakat tidak harus menutup diri dari seluruh pengaruh budaya luar. Hal yang lebih penting adalah kemampuan memilah informasi dan mengambil nilai positif tanpa meninggalkan jati diri bangsa. Sikap terbuka perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan bersama.
Ia juga mengingatkan peserta agar lebih berhati-hati terhadap informasi yang beredar di media sosial. Perkembangan kecerdasan buatan memungkinkan gambar, tulisan, dan suara dimanipulasi sehingga menyerupai orang atau peristiwa yang sebenarnya. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila masyarakat langsung mempercayai atau menyebarkan informasi tanpa melakukan pemeriksaan.
Bakhtiar mencontohkan kemungkinan penggunaan teknologi untuk menghasilkan suara tiruan yang menyerupai seseorang, kemudian dipadukan dengan konten yang tidak pernah disampaikan oleh orang tersebut. Praktik seperti ini dapat merugikan pihak yang menjadi sasaran sekaligus memicu konflik di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa konten keagamaan yang beredar secara digital perlu diperiksa sumber dan konteksnya. Gambar seorang tokoh atau penceramah tidak otomatis membuktikan bahwa pernyataan yang menyertainya benar-benar berasal dari tokoh tersebut.
Karena itu, guru perlu membangun kebiasaan memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten yang belum terverifikasi. Kemampuan menyaring informasi merupakan bagian penting dari pendidikan karakter dan upaya menjaga persatuan di tengah derasnya arus komunikasi digital.
Toleransi sebagai Kunci Merawat Keberagaman
Selain tantangan disinformasi, Bakhtiar menaruh perhatian pada persoalan intoleransi. Ia mengajak peserta melihat keberagaman sebagai kenyataan yang perlu dikelola melalui sikap saling menghormati, bukan dijadikan alasan untuk mempertentangkan kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Dalam pemaparannya, ia menyinggung perbedaan kebiasaan dan penggunaan pakaian di lingkungan sekolah sebagai contoh sederhana yang perlu disikapi dengan bijaksana. Perbedaan seragam atau atribut tertentu tidak semestinya langsung menjadi sumber prasangka selama pelaksanaannya mengikuti ketentuan dan tidak mengganggu hak orang lain.
Ia mengajak guru membangun cara berpikir yang terbuka dan tidak mudah menghakimi. Jika perbedaan dapat dipahami melalui komunikasi dan penjelasan yang baik, potensi kesalahpahaman dapat dikurangi. Sebaliknya, prasangka yang dibiarkan berkembang berisiko memengaruhi hubungan sosial dan menjadi contoh yang kurang baik bagi peserta didik.
Bakhtiar juga menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi antarpihak ketika menghadapi persoalan yang berpotensi menimbulkan ketegangan. Upaya menjaga kerukunan membutuhkan keterlibatan bersama, termasuk organisasi profesi, satuan pendidikan, dan masyarakat.
Menurutnya, toleransi perlu dipraktikkan dalam keseharian, bukan sekadar menjadi slogan dalam kegiatan seremonial. Sikap menghargai orang lain, menyapa dengan baik, mendengarkan pendapat yang berbeda, serta tidak melakukan perundungan merupakan contoh sederhana yang dapat memperkuat hubungan sosial.
Guru Menanamkan Nilai Kebangsaan melalui Pembelajaran
Salah satu pesan utama Bakhtiar adalah bahwa penanaman wawasan kebangsaan merupakan tanggung jawab seluruh guru, apa pun mata pelajaran yang diampu. Nilai kebangsaan dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran dengan menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata, kerja sama, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Ia memberikan ilustrasi tentang pembelajaran kimia yang membahas ikatan antaratom. Konsep ikatan dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak siswa merefleksikan pentingnya hubungan, kerja sama, serta kemampuan saling memberi dan menerima. Dengan pendekatan yang tepat, materi pelajaran tidak hanya membantu siswa memahami konsep akademik, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah khusus. Guru dapat menanamkan nilai kebangsaan melalui pertanyaan pemantik, diskusi kelompok, proyek kolaboratif, maupun contoh yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Dalam pemaparan yang disampaikan, Bakhtiar juga menegaskan empat peran guru, yakni mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dalam pembelajaran, menjadi teladan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, menumbuhkan cinta tanah air melalui kegiatan sekolah, serta membangun komunikasi positif dengan peserta didik, orang tua, dan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh besar karena siswa tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan, tetapi juga dari cara guru memperlakukan orang lain, menyelesaikan masalah, menaati aturan, dan merespons perbedaan.
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk karakter bangsa,” pesan singkat dan menyentuh yang disampaikan H. Bakhtiar di hadapan para peserta PMO IGI NTB.
Membangun Budaya Sekolah yang Disiplin, Inklusif, dan Menghargai Perbedaan
Bakhtiar menjelaskan bahwa wawasan kebangsaan dapat diterapkan melalui berbagai kegiatan dan kebiasaan di sekolah. Pembelajaran yang mengangkat konteks lokal dan budaya bangsa dapat membantu siswa mengenal identitas Indonesia. Kegiatan ekstrakurikuler dapat menumbuhkan kebersamaan, sedangkan pembiasaan hidup disiplin, jujur, dan bertanggung jawab dapat memperkuat karakter.
Sekolah juga perlu membudayakan sikap toleran dan saling menghargai dalam interaksi sehari-hari. Ketika perbedaan pendapat muncul, guru dapat mengarahkan siswa untuk menyampaikan pandangan dengan santun, mendengarkan orang lain, dan mencari penyelesaian bersama.
Selain itu, komunikasi yang positif dengan orang tua dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang mendukung. Nilai-nilai kebangsaan akan lebih mudah tertanam apabila sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar memberikan contoh yang sejalan.
Dalam konteks tersebut, guru diharapkan memiliki karakter sebagai penggerak wawasan kebangsaan: berpikir positif dan terbuka, mencintai profesi serta peserta didik, menjaga integritas dan sikap nasionalis, aktif dalam kegiatan sosial dan kebangsaan, serta menjadi agen perdamaian di lingkungan sekolah.
Menguatkan Nasionalisme Dimulai dari Diri Sendiri
Menutup pemaparannya, Bakhtiar mengajak para guru melakukan refleksi terhadap peran masing-masing dalam menanamkan nilai kebangsaan. Ia mengingatkan pentingnya mengevaluasi apakah nilai-nilai tersebut telah terintegrasi dalam pembelajaran, apakah guru sudah menjadi teladan dalam perilaku, dan bagaimana kontribusi nyata dapat diberikan untuk menjaga persatuan dan kesatuan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa penguatan wawasan kebangsaan tidak selalu harus dimulai melalui program besar. Perubahan dapat berawal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti hadir tepat waktu, menghargai perbedaan, berkomunikasi secara santun, memeriksa kebenaran informasi, dan memperlakukan setiap peserta didik secara adil.
Melalui materi ini, peserta PMO Tingkat Dasar IGI diharapkan semakin memahami pentingnya wawasan kebangsaan dalam kehidupan organisasi profesi maupun dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Guru tidak hanya bertanggung jawab terhadap perkembangan akademik siswa, tetapi juga memiliki peran dalam menumbuhkan karakter, toleransi, dan rasa cinta tanah air. (Ruslan Wahid)

Posting Komentar untuk "Melalui PMO IGI NTB, H. Bakhtiar Ardiansyah Ajak Guru Perkuat Wawasan Kebangsaan Hadapi Tantangan Era Digital "