PMO Dasar IGI NTB, Dr. Arie Andrasyah Isa Bekali Calon Pengurus dengan Strategi Komunikasi Efektif
Kepala Balai Bahasa NTB Tekankan Pentingnya Komunikasi Efektif untuk Perkuat Sinergi Pengurus IGI
MATARAM – Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Arie Andrasyah Isa, S.S., M.Hum., menekankan pentingnya komunikasi efektif sebagai fondasi membangun organisasi yang solid, kolaboratif, dan berorientasi pada tujuan. Hal tersebut dipaparkan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi (PMO) Tingkat Dasar Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah NTB yang berkolaborasi dengan IGI Kota Mataram, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 33 peserta yang merupakan anggota dan calon pengurus IGI dari tingkat wilayah maupun daerah yang telah terpilih. Materi bertajuk Komunikasi Efektif ini dimoderatori oleh Nurhidayati, M.Pd., Ketua Wilayah IGI NTB terpilih periode 2026–2031.
Dalam pemaparannya, Dr. Arie menjelaskan bahwa komunikasi merupakan unsur mendasar dalam menjalankan roda organisasi. Tanpa komunikasi yang baik, koordinasi dapat terhambat, kesalahpahaman mudah terjadi, dan pelaksanaan program kerja berpotensi tidak berjalan sesuai dengan tujuan yang telah disepakati.
Ia menyoroti bahwa tantangan komunikasi tidak hanya muncul dalam percakapan langsung, tetapi juga dalam komunikasi tertulis, khususnya melalui pesan singkat dan grup WhatsApp. Pesan yang disampaikan tanpa konteks, pilihan kata yang kurang tepat, atau respons yang tidak sesuai dengan maksud pengirim dapat memicu salah tafsir dan mengganggu hubungan antaranggota.
Melalui sejumlah ilustrasi dan pengalaman komunikasi sehari-hari, ia mengajak peserta untuk lebih cermat dalam menyampaikan pesan serta tidak terburu-buru menarik kesimpulan terhadap respons orang lain. Menurutnya, setiap individu memiliki situasi, kesibukan, dan kondisi emosional yang berbeda sehingga komunikasi perlu dibangun dengan sikap saling memahami.
Komunikasi Efektif sebagai Penggerak Organisasi
Dr. Arie menegaskan bahwa komunikasi yang sukses bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan memastikan pesan tersebut diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti dengan tepat.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif setidaknya mencakup empat tahapan penting, yaitu pesan tersampaikan dengan jelas, maknanya dipahami oleh penerima, terjadi kesamaan pemahaman, dan ada tindak lanjut berupa tindakan atau kesepakatan bersama.
Apabila komunikasi berhenti pada tahap penyampaian pesan tanpa adanya pemahaman dan tindak lanjut, tujuan organisasi akan sulit dicapai. Karena itu, setiap pengurus perlu memastikan bahwa informasi yang disampaikan benar-benar dipahami oleh pihak terkait dan menghasilkan langkah konkret.
Lebih lanjut, ia menguraikan sejumlah manfaat komunikasi efektif dalam organisasi, di antaranya menyelaraskan tujuan dan harapan, memperkuat kerja sama, mendorong partisipasi aktif anggota, mencegah konflik, serta membangun kolaborasi yang sehat.
Bagi organisasi profesi seperti IGI, komunikasi yang terarah menjadi semakin penting karena setiap program membutuhkan koordinasi antara pengurus wilayah, pengurus daerah, dan seluruh anggota. Soliditas organisasi tidak cukup dibangun melalui pembagian tugas, tetapi juga melalui keterbukaan, kejelasan informasi, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Tegas Tanpa Merendahkan, Berempati Tanpa Mengabaikan Tanggung Jawab
Salah satu poin penting dalam pemaparan tersebut adalah penerapan komunikasi asertif, yakni kemampuan menyampaikan pendapat, harapan, maupun ketidaksetujuan secara tegas, jelas, dan tetap menghormati orang lain.
Dr. Arie memberikan contoh perubahan kalimat yang bernada menyalahkan menjadi ungkapan yang lebih konstruktif. Kalimat “Pengurus sekarang kurang peduli” dapat diubah menjadi “Kita akan menjadi lebih kompak jika semua terlibat aktif.” Demikian pula, keluhan mengenai keterlambatan penyelesaian tugas dapat disampaikan dengan menekankan pentingnya komitmen dan tanggung jawab bersama.
Pendekatan tersebut mengajarkan bahwa komunikasi tidak seharusnya digunakan untuk mempermalukan atau menyudutkan seseorang. Sebaliknya, pilihan kata yang tepat dapat membantu membangun kesadaran, memperbaiki perilaku, dan mendorong anggota untuk mengambil tanggung jawab.
Ia juga mengingatkan pentingnya empati dalam mendengarkan. Pengurus perlu berusaha memahami kondisi orang lain sebelum memberikan penilaian atau mengambil keputusan. Sikap tegas tetap diperlukan dalam kepemimpinan, tetapi ketegasan tersebut harus disertai penghormatan terhadap martabat setiap anggota.
Selain komunikasi verbal, peserta juga diajak memahami pentingnya komunikasi nonverbal, seperti ekspresi wajah, gestur, dan bahasa tubuh. Unsur-unsur tersebut turut memengaruhi cara pesan diterima dan dimaknai oleh lawan bicara.
Diskusi Interaktif, Bekal bagi Calon Pengurus IGI
Sesi pemaparan berlangsung interaktif melalui pertanyaan dan diskusi mengenai persoalan komunikasi yang kerap muncul dalam organisasi. Salah satu persoalan yang dibahas adalah bagaimana menyikapi anggota yang belum memberikan respons terhadap pesan penting, padahal keputusan dari orang tersebut dibutuhkan untuk melanjutkan pekerjaan.
Menanggapi persoalan itu, Dr. Arie mendorong peserta untuk mengedepankan solusi, menjaga prasangka positif, dan mencari jalur komunikasi alternatif apabila pihak yang dihubungi belum dapat memberikan respons. Pendekatan tersebut dinilai lebih produktif daripada membiarkan pekerjaan terhenti atau langsung berasumsi negatif terhadap orang lain.
Diskusi juga mengangkat latihan menyusun kalimat asertif untuk menyampaikan kritik, mengingatkan tanggung jawab, dan mengajak anggota meningkatkan keterlibatan dalam kegiatan organisasi. Melalui latihan ini, peserta memperoleh gambaran praktis tentang cara berkomunikasi yang tegas, santun, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Moderator Nurhidayati, M.Pd., dalam refleksinya menegaskan kembali tiga pesan utama dari materi tersebut, yakni berbicara dengan jelas, mendengarkan dengan empati, dan bertindak dengan komitmen serta tanggung jawab.
Ia mengajak para peserta menjadikan materi tersebut sebagai bekal dalam menjalankan amanah organisasi, terutama bagi calon pengurus IGI Wilayah NTB periode 2026–2031 yang akan mengemban tugas memperkuat koordinasi dan sinergi organisasi.
Pelatihan Manajemen Organisasi Tingkat Dasar ini diharapkan tidak hanya memperkaya pengetahuan peserta mengenai tata kelola organisasi, tetapi juga membentuk budaya komunikasi yang lebih terbuka, santun, dan efektif.
Dengan komunikasi yang terbangun secara sehat, IGI diharapkan semakin mampu memperkuat kolaborasi antaranggota, meningkatkan partisipasi pengurus, serta menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru di Nusa Tenggara Barat.
Pesan utama yang mengemuka dalam sesi tersebut adalah bahwa keberhasilan komunikasi bukan ditentukan oleh siapa yang paling banyak berbicara, melainkan oleh kemampuan setiap pihak untuk saling memahami, menyepakati tujuan, dan bergerak bersama mewujudkan hasil yang diharapkan. (Ruslan Wahid)

Posting Komentar untuk "PMO Dasar IGI NTB, Dr. Arie Andrasyah Isa Bekali Calon Pengurus dengan Strategi Komunikasi Efektif"