Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PMO IGI NTB, M. Fatkoer Rohman Ungkap Pemimpin Harus Melayani, Memberdayakan, dan Menggerakkan

M. Fatkoer Rohman Tekankan Kepemimpinan yang Melayani dan Memberdayakan Guru


Mataram — Kepemimpinan yang efektif tidak cukup hanya berpegang pada teori, tetapi harus diwujudkan melalui praktik nyata dalam mengelola organisasi dan memberdayakan sumber daya manusia. Pesan tersebut disampaikan M. Fatkoer Rohman, S.Pd., Kepala SMAN 2 Kayangan sekaligus President Matematika Nusantara, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Pengembangan Manajemen Organisasi (PMO) Tingkat Dasar yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Nusa Tenggara Barat bersama IGI Daerah Kota Mataram, Sabtu (24/10/2026), di Hotel Idoop Mataram.

Dalam sesi bertema “Kepemimpinan” yang dimoderatori Rina Sudayati, S.Pd., di hadapan para peserta PMO Fatkoer membagikan pengalaman praktisnya dalam memimpin satuan pendidikan. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak seharusnya berhenti pada pemahaman definisi dan teori, melainkan harus terlihat dari kemampuan pemimpin menyelesaikan persoalan, mengembangkan potensi anggota, serta menggerakkan organisasi menuju tujuan bersama.

“Kalau masalah definisi dan teori, sekarang mudah ditemukan di Google. Namun, praktik baik belum tentu ditemukan di sana. Karena itu, saya lebih banyak berbagi pengalaman tentang apa yang saya lakukan di sekolah,” ungkapnya.

Kepemimpinan Bukan Sekadar Teori, tetapi Praktik Nyata

Menurut Fatkoer, kepemimpinan merupakan kemampuan mengelola berbagai sumber daya yang dimiliki organisasi, baik sumber daya fisik maupun sumber daya manusia atau non fisik. Keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda karena pengelolaan manusia memiliki tantangan tersendiri.

Sarana dan prasarana dapat direncanakan, dibeli, atau dibangun sesuai kebutuhan. Namun, meningkatkan kompetensi, membangun motivasi, dan menumbuhkan komitmen anggota organisasi membutuhkan proses yang lebih panjang. Karena itu, seorang pemimpin harus memahami karakter, kebutuhan, dan potensi orang-orang yang dipimpinnya.

“Ketika berbicara tentang sumber daya manusia, prosesnya tidak mudah. Berbagai pelatihan sudah dilakukan, tetapi peningkatan mutu pendidikan tetap membutuhkan kerja yang konsisten,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Pemimpin juga perlu menunjukkan keteladanan, membuka ruang komunikasi, dan memastikan setiap anggota memperoleh kesempatan untuk berkembang. Dalam konteks sekolah, kepala sekolah perlu menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan guru dan tenaga kependidikan berkontribusi secara optimal.

Mengembangkan Kompetensi, Kesejahteraan, dan Karier Guru

Dalam pemaparannya, Fatkoer menjelaskan pentingnya memperhatikan tiga aspek utama dalam pengelolaan sumber daya manusia di sekolah, yakni kompetensi, kesejahteraan, dan karier atau yang ia sebut sebagai prinsip 3K.

Aspek kompetensi berkaitan dengan upaya meningkatkan kemampuan profesional guru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, pengembangan kompetensi tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pelatihan formal, tetapi juga harus didukung pendampingan dan kesempatan menerapkan pengetahuan dalam pekerjaan sehari-hari.

Ia mendorong guru untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan menulis karya ilmiah, serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Kepala sekolah, dalam hal ini, perlu hadir sebagai pihak yang memberikan dukungan ketika guru menghadapi kendala dalam proses pengembangan diri.

Pada aspek karier, Fatkoer berbagi pengalamannya membantu guru dan tenaga kependidikan mengurus berbagai kebutuhan pengembangan karier, termasuk penyusunan karya ilmiah dan proses kenaikan pangkat sesuai ketentuan yang berlaku. Pendampingan tersebut dinilai penting karena tidak semua guru memiliki pemahaman yang sama mengenai prosedur administrasi dan persyaratan yang harus dipenuhi.

“Kalau guru mengalami kesulitan, silakan datang dan berkonsultasi. Apa pun yang mereka butuhkan untuk pengembangan karier, selama bisa saya bantu, akan saya bantu,” tandasnya.

Sementara itu, aspek kesejahteraan perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap ketenangan guru dalam menjalankan tugas. Salah satu bentuk dukungan yang disampaikan Fatkoer adalah memastikan data guru dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tercatat secara benar serta membantu kelengkapan administrasi yang berkaitan dengan tunjangan profesi guru.

Ia juga menyinggung pentingnya membantu guru honorer memahami prosedur administrasi dan persyaratan yang berkaitan dengan program pendidikan profesi guru. Seluruh proses tersebut, menurutnya, harus dilakukan sesuai aturan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Kepemimpinan yang Berdampak pada Peningkatan Hasil Pendidikan

Fatkoer juga mengaitkan kepemimpinan dengan hasil yang dicapai sekolah. Ia menyampaikan pengalaman mengenai peningkatan jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri. Menurut pemaparannya, jumlah tersebut yang sebelumnya berkisar tiga hingga lima siswa per tahun meningkat menjadi sekitar 18 siswa per tahun.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan perlu diarahkan pada upaya memperbaiki layanan pendidikan dan membuka peluang lebih besar bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Peningkatan hasil pendidikan tentu tidak hanya bergantung pada kepala sekolah. Peran guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, serta lingkungan sekolah tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Namun, pemimpin memiliki tanggung jawab untuk membangun arah kerja yang jelas, mendorong kolaborasi, dan memastikan berbagai upaya berjalan secara konsisten.

Karena itu, kepala sekolah perlu menciptakan suasana yang mendukung guru untuk berinovasi dan mengembangkan strategi pembelajaran. Ketika guru memperoleh ruang untuk berinisiatif, sekolah memiliki peluang lebih besar untuk menemukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pemimpin Harus Melayani dan Memberdayakan Anggota

Salah satu pesan utama yang ditekankan Fatkoer adalah pentingnya menempatkan pemimpin sebagai pelayan sekaligus pemberdaya anggota organisasi. Menurutnya, pemimpin tidak harus mengambil alih seluruh pekerjaan atau menjadi satu-satunya pihak yang menentukan setiap langkah.

Guru dan tenaga kependidikan perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan, merancang kegiatan, serta melaksanakan program sesuai bidang dan tanggung jawab masing-masing. Kepala sekolah dapat memberikan arahan dan dukungan, sementara keterlibatan langsung diperlukan ketika persoalan menyangkut kebijakan atau ketika anggota membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah yang tidak dapat ditangani sendiri.

Pola kepemimpinan tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya, tanggung jawab, dan kepemilikan terhadap program sekolah. Anggota organisasi tidak hanya menjadi pelaksana instruksi, tetapi juga menjadi bagian dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan.

“Pemimpin itu melayani dan memberdayakan,” tegasnya.

Fatkoer juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dan komunikasi terbuka di lingkungan sekolah. Hubungan kerja yang baik memungkinkan berbagai persoalan dibicarakan lebih awal sebelum berkembang menjadi konflik. Ketika muncul perbedaan pendapat atau tekanan dari pihak luar, komunikasi yang terjaga dapat membantu sekolah merespons situasi secara lebih tenang dan terarah.

Meski demikian, pemberdayaan bukan berarti pemimpin melepaskan tanggung jawab. Kepala sekolah tetap perlu memastikan bahwa setiap kegiatan berjalan sesuai tujuan, pembagian tugas jelas, dan keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

Memahami Regulasi dan Menjaga Akuntabilitas Pengelolaan Sekolah

Selain kemampuan membangun hubungan dengan anggota, Fatkoer mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap regulasi. Menurutnya, kepala sekolah perlu mengetahui ketentuan yang mengatur pengelolaan lembaga, terutama dalam penggunaan anggaran, pelaksanaan kegiatan, dan pertanggungjawaban administrasi.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang tampak menyenangkan bagi sebagian anggota belum tentu dapat dilaksanakan apabila bertentangan dengan aturan. Karena itu, seorang pemimpin harus mampu menyeimbangkan kebutuhan organisasi, aspirasi guru, dan ketentuan yang berlaku.

“Kepala sekolah harus benar-benar memahami regulasi. Jangan sampai mengambil kebijakan hanya untuk menyenangkan guru, tetapi justru menimbulkan masalah di kemudian hari,” jelasnya.

Dalam pengelolaan anggaran, keterbukaan perlu disertai ketepatan prosedur dan dokumentasi yang memadai. Setiap keputusan harus memiliki dasar yang jelas, penggunaan dana harus sesuai peruntukan, dan bukti administrasi perlu disimpan dengan tertib. Langkah tersebut penting untuk menjaga akuntabilitas sekaligus melindungi lembaga dari persoalan administratif.

Fatkoer juga menyinggung tantangan yang dapat dihadapi pimpinan sekolah ketika berhadapan dengan pemeriksaan, evaluasi, atau pengaduan terkait pengelolaan anggaran. Dalam situasi seperti itu, pemimpin perlu memahami aturan, menyiapkan dokumen pendukung, serta menjelaskan kebijakan berdasarkan fakta dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang keberanian mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan memastikan keputusan tersebut sesuai aturan dan dilaksanakan secara bertanggung jawab.

Komunikasi dan Kesabaran dalam Menghadapi Perbedaan Karakter

Dalam sesi diskusi, peserta turut berbagi pengalaman mengenai tantangan kepemimpinan di lingkungan sekolah. Salah satu persoalan yang mengemuka adalah bagaimana menghadapi pimpinan yang dinilai kurang memberikan ruang bagi guru dan tenaga kependidikan untuk menyampaikan gagasan atau terlibat dalam pelaksanaan program.

Menanggapi hal tersebut, Fatkoer menekankan pentingnya kesabaran, komunikasi, dan pemahaman terhadap perbedaan karakter. Setiap orang memiliki cara pandang dan pendekatan yang berbeda dalam bekerja. Oleh karena itu, upaya membangun hubungan profesional perlu dilakukan dengan komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai.

Namun, ia juga menegaskan bahwa pemimpin seharusnya bersedia mendengarkan gagasan anggota. Organisasi akan sulit berkembang apabila seluruh keputusan hanya berpusat pada satu orang, sementara potensi dan pengalaman anggota tidak dimanfaatkan.

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar persoalan jabatan, melainkan kemampuan membangun hubungan kerja yang sehat. Pemimpin perlu menjaga kewenangan dan tanggung jawabnya, tetapi pada saat yang sama harus membuka ruang partisipasi agar anggota dapat berkembang dan berkontribusi.

PMO Menjadi Ruang Belajar bagi Calon Pemimpin Organisasi

Pada akhir sesi, moderator Rina Sudayati, S.Pd., merangkum pesan utama materi bahwa kepemimpinan harus mampu memberdayakan, melayani, dan menggerakkan anggota untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin yang efektif tidak hanya mengarahkan organisasi, tetapi juga membantu anggotanya bertumbuh dan mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

Materi yang disampaikan Fatkoer menjadi ruang refleksi bagi peserta PMO Tingkat Dasar IGI Wilayah NTB dan IGI Daerah Kota Mataram mengenai tantangan memimpin organisasi pendidikan. Pengalaman praktis yang dibagikan memberikan gambaran bahwa kepemimpinan membutuhkan keseimbangan antara pengembangan sumber daya manusia, komunikasi, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan dapat memperkuat kapasitas kepemimpinan dan menerapkan praktik organisasi yang lebih partisipatif, tertib, serta berorientasi pada tujuan bersama. Nilai-nilai tersebut penting bagi pengembangan organisasi profesi guru maupun pengelolaan satuan pendidikan.

Setelah sesi kepemimpinan berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan materi berikutnya, yakni wawasan kebangsaan yang dipaparkan oleh H. Bakhtiar Ardiansya, S.Pd, M.Pd. Rangkaian materi tersebut menjadi bagian dari upaya membekali peserta dengan pemahaman organisasi dan kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam menjalankan peran di lingkungan pendidikan maupun masyarakat. (Ruslan Wahid)


Posting Komentar untuk "PMO IGI NTB, M. Fatkoer Rohman Ungkap Pemimpin Harus Melayani, Memberdayakan, dan Menggerakkan"