Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Guru Memanfaatkan ChatGPT untuk Membuat Modul Ajar, Soal, dan LKPD dengan Cepat

Cara Guru Memanfaatkan ChatGPT untuk Membuat Modul Ajar, Soal, dan LKPD dengan Cepat

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Jika dahulu seorang guru membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal evaluasi, merancang media pembelajaran, hingga menyiapkan administrasi kelas, kini sebagian pekerjaan tersebut dapat dibantu dengan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Kehadiran AI seperti ChatGPT, Gemini, Microsoft Copilot, dan berbagai platform berbasis kecerdasan buatan lainnya membuka peluang baru bagi para pendidik untuk bekerja lebih efektif, kreatif, dan produktif.

Bayangkan seorang guru yang harus menyiapkan modul ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), soal pilihan ganda, rubrik penilaian proyek, sekaligus bahan presentasi untuk pembelajaran esok hari. Jika dikerjakan secara manual, pekerjaan tersebut tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Namun, dengan bantuan AI dan instruksi atau prompt yang tepat, guru dapat memperoleh rancangan awal berbagai perangkat tersebut dalam waktu relatif singkat.

Meski demikian, penggunaan AI bukan berarti guru dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pekerjaannya kepada mesin. AI seharusnya diposisikan sebagai asisten digital yang membantu proses berpikir, menyusun ide, mengembangkan bahan ajar, dan menyederhanakan pekerjaan administratif. Sementara itu, keputusan pedagogis, penyesuaian dengan karakteristik peserta didik, serta penilaian akhir tetap berada di tangan guru.

Lantas, bagaimana cara memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan guru? Apa saja yang bisa dilakukan dengan ChatGPT dan aplikasi sejenisnya? Berikut panduan praktis yang dapat mulai diterapkan dalam kegiatan pendidikan sehari-hari.

1. Mengenal AI dan Manfaatnya bagi Dunia Pendidikan

Artificial Intelligence atau kecerdasan artifisial merupakan teknologi yang memungkinkan sistem komputer melakukan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali pola, mengolah informasi, menghasilkan teks, serta membantu memecahkan masalah.

Salah satu teknologi AI yang semakin populer adalah Generative AI, yaitu kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan konten baru berdasarkan instruksi pengguna. Konten tersebut dapat berupa tulisan, gambar, rangkuman, ide pembelajaran, presentasi, hingga kode program.

Dalam dunia pendidikan, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membantu guru dalam berbagai aktivitas, antara lain:

  • Menyusun modul ajar dan rencana pembelajaran.

  • Membuat LKPD sesuai materi dan jenjang kelas.

  • Menyusun soal pilihan ganda, isian, dan uraian.

  • Membuat kisi-kisi dan instrumen asesmen.

  • Menyusun rubrik penilaian tugas dan proyek.

  • Mengembangkan ide media pembelajaran kreatif.

  • Membuat bahan presentasi dan materi ajar.

  • Menyusun laporan kegiatan dan administrasi guru.

  • Membantu memberikan umpan balik terhadap pekerjaan peserta didik.

  • Mengembangkan ide penelitian tindakan kelas dan karya tulis ilmiah.

Dengan kemampuan tersebut, AI dapat menjadi mitra kerja yang membantu guru menghemat waktu sehingga memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta didik dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Rekomendasi Aplikasi AI yang Bisa Digunakan Guru

Ada berbagai aplikasi AI yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan pendidik. Beberapa di antaranya dapat diakses secara gratis dengan fitur dan batas penggunaan tertentu.

A. ChatGPT

ChatGPT merupakan asisten AI yang dapat membantu guru menghasilkan teks, menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal, merancang aktivitas kelas, menganalisis informasi, hingga mengembangkan ide kreatif.

Guru dapat memberikan instruksi dalam bahasa Indonesia dengan menjelaskan kebutuhan pembelajaran secara spesifik.

B. Google Gemini

Gemini dapat dimanfaatkan untuk mencari ide pembelajaran, menyusun materi, merangkum informasi, mengembangkan pertanyaan diskusi, dan membantu pekerjaan berbasis ekosistem Google sesuai fitur yang tersedia.

C. Microsoft Copilot

Copilot dapat membantu menyusun teks, merangkum informasi, menghasilkan ide, serta mendukung pekerjaan produktivitas. Integrasinya dengan aplikasi Microsoft bergantung pada jenis akun dan lisensi yang digunakan.

D. Canva AI

Canva menyediakan sejumlah fitur berbasis AI yang dapat membantu guru membuat desain poster pendidikan, presentasi, infografis, lembar aktivitas, dan berbagai media visual pembelajaran.

E. Gamma

Gamma dapat membantu membuat rancangan presentasi dan dokumen visual berdasarkan instruksi teks. Guru dapat memanfaatkannya untuk menyusun bahan tayang pembelajaran dengan lebih cepat.

Setiap aplikasi memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing. Guru tidak harus menggunakan semuanya sekaligus. Memulai dengan satu aplikasi seperti ChatGPT sudah cukup untuk membangun kebiasaan memanfaatkan AI dalam pekerjaan pendidikan.

3. Cara Menggunakan ChatGPT untuk Membuat Modul Ajar

Salah satu pekerjaan yang cukup menyita waktu guru adalah menyusun perangkat pembelajaran. Mulai dari menentukan tujuan pembelajaran, merancang kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, penutup, hingga asesmen.

ChatGPT dapat membantu menghasilkan rancangan awal modul ajar berdasarkan informasi yang diberikan guru.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Buka situs https://chatgpt.com.

  2. Masuk menggunakan akun yang tersedia.

  3. Tuliskan mata pelajaran, kelas, fase, dan materi yang akan diajarkan.

  4. Jelaskan pendekatan pembelajaran yang ingin digunakan.

  5. Mintalah AI menyusun modul ajar dengan struktur yang diinginkan.

  6. Periksa dan sesuaikan hasilnya dengan kurikulum, kebutuhan peserta didik, dan kondisi sekolah.

Contoh prompt untuk membuat modul ajar:

"Bertindaklah sebagai ahli pengembangan perangkat pembelajaran. Buatkan modul ajar Kurikulum Merdeka untuk mata pelajaran Seni Rupa kelas VIII SMP/MTs dengan materi Gambar Perspektif Dua Titik Hilang. Modul harus memuat identitas, kompetensi awal, tujuan pembelajaran, profil atau karakter yang dikembangkan, pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, kegiatan pembelajaran pendahuluan, inti dan penutup, asesmen diagnostik, formatif dan sumatif, serta refleksi guru dan peserta didik. Gunakan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang mengintegrasikan mindful, meaningful, dan joyful learning. Sajikan secara sistematis dan praktis untuk diterapkan di kelas."

Dalam waktu singkat, guru dapat memperoleh rancangan awal modul ajar yang selanjutnya dapat diperbaiki dan disesuaikan.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah jangan langsung menggunakan hasil AI tanpa pemeriksaan. Pastikan tujuan pembelajaran sesuai dengan capaian pembelajaran, materi benar, dan aktivitas yang dirancang realistis untuk kondisi kelas.

4. Membuat LKPD Lebih Cepat dan Kreatif dengan AI

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan salah satu perangkat yang membantu peserta didik memahami materi melalui kegiatan belajar yang terarah.

Dengan bantuan AI, guru dapat mengembangkan LKPD yang lebih menarik, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

Misalnya, guru Seni Rupa ingin membuat LKPD tentang teknik menggambar pointilis. Guru dapat meminta ChatGPT menyusun aktivitas pengamatan, langkah kerja, pertanyaan pemahaman, hingga tugas praktik.

Contoh prompt membuat LKPD:

"Buatkan LKPD Seni Rupa kelas VIII MTs dengan materi Menggambar Menggunakan Teknik Pointilis. LKPD ditujukan untuk peserta didik usia 13–14 tahun. Sertakan identitas peserta didik, tujuan kegiatan, alat dan bahan, petunjuk pengerjaan, langkah-langkah praktik, pertanyaan refleksi, serta penilaian hasil karya. Gunakan bahasa sederhana dan instruksi yang mudah dipahami siswa."

Guru juga dapat meminta AI membuat variasi LKPD berdasarkan tingkat kemampuan peserta didik. Misalnya, LKPD dasar untuk peserta didik yang membutuhkan pendampingan dan LKPD pengayaan bagi peserta didik yang sudah menguasai materi.

Dengan demikian, pembelajaran dapat dirancang lebih fleksibel dan memperhatikan perbedaan kebutuhan belajar.

5. Menyusun Soal Asesmen dan Evaluasi dalam Hitungan Menit

Membuat soal merupakan pekerjaan rutin yang membutuhkan ketelitian. Guru harus memastikan soal sesuai dengan tujuan pembelajaran, tingkat kesulitan, materi, serta kemampuan yang ingin diukur.

ChatGPT dapat membantu membuat berbagai bentuk soal, seperti:

  • Pilihan ganda.

  • Benar atau salah.

  • Isian singkat.

  • Menjodohkan.

  • Uraian.

  • Soal berbasis literasi dan numerasi.

  • Soal berbasis kasus atau pemecahan masalah.

Contoh prompt membuat soal pilihan ganda:

"Buatkan 20 soal pilihan ganda mata pelajaran Seni Rupa kelas VIII dengan materi Gambar Perspektif Satu Titik Hilang. Setiap soal memiliki empat pilihan jawaban (A, B, C, D), satu jawaban benar, dan dilengkapi kunci jawaban serta pembahasan singkat. Variasikan tingkat kesulitan soal menjadi mudah, sedang, dan sulit. Pastikan soal mengukur pemahaman konsep dan penerapan teknik menggambar perspektif."

Guru juga dapat meminta AI mengelompokkan soal berdasarkan level kognitif, misalnya mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.

Namun, hasil soal tetap harus diperiksa. Pastikan tidak ada jawaban ganda, informasi keliru, kalimat ambigu, atau materi yang belum pernah dipelajari peserta didik.

6. Membuat Rubrik Penilaian Proyek dan Praktik

Dalam pembelajaran berbasis proyek, guru tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses pengerjaan, kreativitas, kedisiplinan, dan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan tugas.

AI dapat membantu menyusun rubrik penilaian secara sistematis.

Sebagai contoh, dalam pembelajaran Seni Rupa dengan tugas membuat poster, guru dapat menggunakan prompt berikut:

"Buatkan rubrik penilaian proyek membuat poster untuk siswa kelas VIII MTs. Gunakan empat aspek penilaian, yaitu kesesuaian tema, kreativitas desain, komposisi visual, dan kerapian hasil karya. Buat empat tingkat pencapaian dengan skor 1 sampai 4, lengkap dengan deskripsi masing-masing tingkat. Sajikan dalam bentuk tabel dan sertakan cara menghitung nilai akhir."

Rubrik yang dihasilkan dapat menjadi dasar penilaian yang lebih transparan. Peserta didik juga dapat mengetahui aspek apa saja yang menjadi perhatian dalam penilaian tugas mereka.

Guru tetap perlu memastikan indikator penilaian benar-benar mencerminkan kompetensi yang ingin dicapai.

7. Merancang Media Pembelajaran yang Menarik dengan AI

Pembelajaran yang menarik tidak selalu membutuhkan perangkat teknologi mahal. Dengan berbagai aplikasi AI, guru dapat mengembangkan media pembelajaran yang lebih variatif.

Beberapa media yang dapat dibuat antara lain:

Poster pendidikan: Menggunakan Canva AI untuk membuat poster tentang kebersihan lingkungan, budaya literasi, atau materi pelajaran.

Infografis: Mengubah materi yang panjang menjadi informasi visual yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

Presentasi pembelajaran: Menggunakan Gamma atau aplikasi presentasi lainnya untuk membuat bahan tayang berdasarkan materi yang telah disiapkan.

Ilustrasi pembelajaran: Memanfaatkan fitur pembuat gambar berbasis AI untuk menghasilkan ilustrasi pendukung materi.

Video pembelajaran: Mengembangkan naskah, storyboard, dan konsep visual menggunakan ChatGPT, kemudian mengolahnya dengan aplikasi penyunting video.

Sebagai contoh, guru dapat meminta ChatGPT membuat storyboard video pembelajaran tentang proses terjadinya hujan. Setelah itu, guru dapat mengembangkan setiap adegan menjadi ilustrasi atau video menggunakan aplikasi yang sesuai.

AI membantu proses perencanaan dan produksi, sedangkan guru memastikan isi media tetap akurat, sesuai usia peserta didik, dan mendukung tujuan pembelajaran.

8. Membantu Pekerjaan Administrasi Guru

Selain kegiatan mengajar, guru juga memiliki berbagai tugas administrasi yang harus diselesaikan. Mulai dari membuat laporan kegiatan, menyusun jurnal mengajar, menulis berita sekolah, membuat surat pemberitahuan, hingga menyusun laporan hasil kegiatan.

Pekerjaan tersebut dapat dibantu dengan ChatGPT.

Contohnya, guru dapat memasukkan informasi kegiatan berupa tanggal, tempat, peserta, rangkaian kegiatan, dan hasil yang dicapai. Selanjutnya, AI dapat membantu mengubah informasi tersebut menjadi laporan yang lebih sistematis.

Contoh prompt membuat laporan kegiatan:

"Buatkan laporan kegiatan pembelajaran berbasis teknologi informasi untuk mata pelajaran Seni Rupa kelas VIII. Kegiatan dilaksanakan pada 26 September 2026 dengan materi Menggambar Teknik Pointilis. Media yang digunakan adalah LCD proyektor, telepon Android, dan Anycast HDMI Dongle. Susun laporan secara formal dengan bagian pendahuluan, tujuan, pelaksanaan, penggunaan media, hasil kegiatan, kendala, dan kesimpulan."

AI juga dapat membantu membuat:

  • Laporan kegiatan sekolah.

  • Berita kegiatan madrasah.

  • Caption media sosial.

  • Surat undangan dan pemberitahuan.

  • Notulen rapat.

  • Jurnal kegiatan pembelajaran.

  • Laporan kegiatan ekstrakurikuler.

  • Artikel pendidikan untuk blog sekolah.

Dengan bantuan tersebut, guru dapat mengurangi waktu yang digunakan untuk menyusun dokumen tanpa mengabaikan kualitas dan keakuratan informasi.

9. Rahasia Menggunakan AI: Buat Prompt yang Jelas dan Spesifik

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pengguna baru adalah memberikan instruksi terlalu singkat.

Misalnya, hanya menulis: "Buatkan modul ajar Seni Rupa."

Instruksi tersebut terlalu umum. AI belum mengetahui jenjang kelas, materi, kurikulum, tujuan pembelajaran, dan format yang diinginkan.

Agar hasil lebih sesuai, guru perlu memberikan instruksi yang jelas.

Gunakan rumus sederhana berikut:

PERAN + KONTEKS + TUGAS + FORMAT + KETENTUAN

Penjelasannya:

  1. Peran: Tentukan AI sebagai apa, misalnya ahli pendidikan atau pengembang perangkat pembelajaran.

  2. Konteks: Berikan informasi jenjang pendidikan, kelas, mata pelajaran, dan karakteristik peserta didik.

  3. Tugas: Jelaskan pekerjaan yang harus dilakukan.

  4. Format: Tentukan bentuk hasil yang diinginkan, misalnya tabel, narasi, modul, atau daftar soal.

  5. Ketentuan: Berikan batasan, standar, pendekatan, atau aturan yang harus diperhatikan.

Contoh:

"Bertindaklah sebagai ahli pendidikan dan pengembangan kurikulum. Saya seorang guru Seni Rupa di MTs yang mengajar kelas VIII. Buatkan asesmen formatif untuk materi menggambar perspektif dua titik hilang. Sajikan dalam bentuk 10 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian, lengkap dengan kunci jawaban dan pedoman penskoran. Gunakan bahasa yang mudah dipahami peserta didik tingkat SMP/MTs dan sesuaikan dengan tujuan pembelajaran."

Semakin lengkap informasi yang diberikan, semakin besar peluang AI menghasilkan jawaban yang sesuai dengan kebutuhan guru.

Jangan ragu memberikan instruksi lanjutan. Misalnya, "Perbaiki soal nomor 5 karena terlalu sulit", "Tambahkan contoh kegiatan praktik", atau "Ubah menjadi format tabel". Proses bertanya dan memperbaiki inilah yang membuat penggunaan AI menjadi lebih efektif.

10. Hal yang Harus Diperhatikan Guru Saat Menggunakan AI

Meskipun memberikan banyak kemudahan, penggunaan AI dalam pendidikan juga memiliki risiko yang harus dipahami.

Pertama, jangan langsung percaya seluruh jawaban AI.

AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau bahkan menciptakan referensi yang sebenarnya tidak ada. Oleh karena itu, guru harus memeriksa kembali fakta, konsep, sumber informasi, dan kebenaran jawaban.

Kedua, lindungi data pribadi peserta didik.

Jangan memasukkan informasi sensitif seperti nama lengkap siswa, alamat, nomor identitas, nilai individual yang dapat mengungkap identitas, kondisi keluarga, maupun informasi pribadi lainnya ke layanan AI tanpa dasar dan perlindungan yang sesuai.

Ketiga, perhatikan hak cipta dan keaslian karya.

Guru perlu memastikan materi, gambar, teks, dan media yang dihasilkan atau digunakan sesuai dengan ketentuan hak cipta dan lisensi yang berlaku.

Keempat, jangan menggantikan penilaian profesional guru.

AI boleh membantu menyusun instrumen penilaian dan menganalisis pola jawaban peserta didik. Namun, keputusan akhir mengenai perkembangan, kemampuan, dan kebutuhan belajar siswa harus mempertimbangkan pengamatan serta pertimbangan profesional guru.

Kelima, gunakan AI secara proporsional.

Tidak semua pekerjaan harus menggunakan AI. Interaksi langsung, keteladanan, pembinaan karakter, pendampingan emosional, dan hubungan sosial antara guru dan peserta didik tetap membutuhkan kehadiran manusia.

Penting diketahui bahwa pada 12 Maret 2026, pemerintah Indonesia telah menetapkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pedoman ini menekankan pemanfaatan teknologi secara etis, aman, bijak, bertanggung jawab, serta selaras dengan perlindungan anak dan tujuan pendidikan nasional.

Artinya, pemanfaatan AI di sekolah bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga harus memperhatikan keselamatan, etika, dan kepentingan peserta didik.

11. Guru Masa Kini Harus Terbuka terhadap Perkembangan Teknologi

Perubahan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi guru. Sebaliknya, perkembangan AI dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas layanan pendidikan.

Guru yang mampu memanfaatkan teknologi secara tepat akan memiliki lebih banyak pilihan dalam merancang pembelajaran, mengembangkan media kreatif, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam kepada peserta didik.

Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh perangkat digital. Ada unsur penting yang tidak dapat digantikan oleh AI, yaitu empati, keteladanan, kepedulian, kebijaksanaan, dan sentuhan kemanusiaan seorang pendidik.

AI mungkin dapat membantu menyusun modul ajar dalam beberapa menit, membuat puluhan soal dalam waktu singkat, atau menghasilkan desain media pembelajaran yang menarik. Akan tetapi, hanya guru yang mengenal karakter peserta didiknya, memahami kondisi kelas, dan mampu menentukan pendekatan terbaik untuk membantu mereka berkembang.

Karena itu, guru tidak harus menjadi ahli teknologi untuk mulai menggunakan AI. Cukup memiliki kemauan belajar, berani mencoba, dan terus mengembangkan keterampilan digital secara bertahap.

Penutup

Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam dunia pendidikan merupakan peluang besar bagi guru untuk bekerja lebih efektif dan produktif. Mulai dari membuat modul ajar, LKPD, asesmen, rubrik penilaian, media pembelajaran, hingga menyusun berbagai dokumen administrasi, semuanya dapat dibantu dengan teknologi AI.

ChatGPT dan aplikasi sejenisnya dapat menjadi asisten digital yang membantu menyederhanakan pekerjaan guru. Namun, teknologi tersebut harus digunakan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, AI bukan pengganti guru, melainkan alat bantu untuk memperkuat peran guru. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi kualitas pendidikan tetap bergantung pada kompetensi, kreativitas, karakter, dan dedikasi para pendidiknya.

Guru hebat bukanlah guru yang menghindari teknologi, melainkan guru yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan dalam mendidik.


Referensi dan Sumber Bacaan

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Panduan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial: untuk Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran serta Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan.
    https://repositori.kemendikdasmen.go.id/36443/

  2. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2026). SKB Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial.
    https://www.kemendikdasmen.go.id/pengumuman/14932-skb-pedoman-pemanfaatan-dan-pembelajaran-teknologi-digital-dan-ka

  3. OpenAI. (2026). Getting Started with ChatGPT as an Educator. OpenAI Help Center.
    https://help.openai.com/en/articles/8313929-getting-started-with-chatgpt-as-an-educator

  4. OpenAI Academy. (2026). Build a Complete Lesson Resource Pack.
    https://academy.openai.com/public/clubs/k-12-education-aacga/blogs/build-a-complete-lesson-resource-pack-2026-05-21

  5. UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. UNESCO.
    https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386693

  6. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Tujuh Kementerian Sepakati Pedoman Penggunaan AI di Pendidikan.
    https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/tujuh-kementerian-sepakati-pedoman-penggunaan-ai-di-pendidikan

Posting Komentar untuk "Cara Guru Memanfaatkan ChatGPT untuk Membuat Modul Ajar, Soal, dan LKPD dengan Cepat"